Sabtu, 01 Januari 2011

Buat Ibu


Ibu

Aku mendengar suaramu
Sejak kau tiupkan diam-diam ketika aku masih merah
Aku mengenal wajahmu sejak Kau
merajam waktu hingga tanpa nama
dan ketika kau menyulam gelisah yang belum juga tunai
hingga kini

“menangislah! Menangislah yang kencang, biar suaramu cepat gelegar
kelak waktu-waktu akan menjemputmu lebih cepat
daripada uban yang berebut tumbuh di kepalamu,” katamu bu.

Ibu
Lihatlah, bu
Tak ada lagi genang embun
di sudut-sudut mataku
Seperti saat dulu
kau ganti air susuku dengan
dongeng pangeran berkuda putih
yang gagah mengangkat pedang
ke medan perang
Dari sanalah aku belajar jadi karang
Dan merawatnya diam-diam

Tak perlu kita bicarakan apa yang diberi
Dan apa yang harus ditagih
Sebab aku, bagian dari tubuhmu

Ibu
Kau yang tak pernah lelah membidangkan dadamu
Untukku rebah, lalu bercerita tentang hal yang sedikitpun tak ku mengerti,
: tentang kejamnya dunia ini


Ibu
Doa-doamu,
membuatku berjalan
dan berlari hingga hari ini
atau nanti.


Sajak Untuk Ibu Tercinta


Selalu ku ingat akan nasehatku ibu
selalu terbayang kata-katamu yang sejukan hati
kau bagai lentera menerangi hati dalam gulita
sesejuk embun pagi tutur katamu yang mengalir

Betapa sempurnanya...
betapa mulianya...
kasih sayangmu untukku
di dadamu ku rebahkan diri

Maafkan anakmu jika melukai perasaan ibu
maafkan anakmu karena tak bisa membahagiakanmu
oh ibu... di kakimu aku bersimpuh
Ya Tuhan... ampunilah dosa ibuku
sayangilah dia seperti menyayangiku
oh ibu... maafkan bila ku bersalah
pengorbananmu tulus tanpa pamrih

Oh ibu... aku ingin membahagiakanmu
aku akan berusaha membuatmu bangga padaku
oh ibu... kau sangat ku cintai
kau wanita terbaik yang pernah ku kenal

Kau yang membuatku tegar dalam hidup ini
kau adalah sumber kekuatan ketika aku dalam masalah
kaulah yang terbaik sekarang dan selamanya

Sajak Tahun Baru

kita bertemu lagi di sini
di ambang pintu kemesraan sarang laba-laba
engsel yang berkarat
tak akan mendiamkan tanganku
atau tanganmu yang lebih awal
memainkan kunci

kita mungkin akan saling merenggut
lalu ketawa tertahan
menjelang percintaan kita sudahi
dalam helaan nafas panjang
dan anak-anak melahirkan dirinya
melalui gelap yang merindukan cahaya
sementara terang
selalu mencurigai malam

kita bertemu lagi di sini
tetap di sini bahkan tak di lain tempat
matahari yang sama, jam dinding telah
dibelah dalam bagian yang sama
sejarah telah kita tuliskan kemarin
lalu kita deretkan menjadi ranjau-ranjau,
sampai bedil angin yang sederhana.
Siapakah penyair dan puisinya
kecuali aku dan engkau?
Sebaiknya kita tak membuat pesta
anak-anak telah melakukannya semalam
dalam mimpinya. Dan ruang memang
tak tersisa lagi setelah laba-laba itu
kita tetaskan tanpa sengaja
di sini!